“I Want to Eat Your Pancreas” (2018), yang judul aslinya dalam bahasa Jepang adalah Kimi no Suizou wo Tabetai, adalah film animasi yang menyentuh dan mendalam, diadaptasi dari novel ringan karya Yoru Sumino. Film ini jauh melampaui romansa sekolah biasa, menggali tema-tema eksistensial tentang kehidupan, kematian, dan hubungan antarmanusia yang terbentuk di bawah bayangan takdir yang tak terhindarkan.
Meskipun judulnya terdengar gelap dan aneh—yang merujuk pada takhayul kuno Jepang bahwa memakan organ yang sakit dapat menyembuhkan penyakit yang sama pada orang lain—inti film ini justru adalah perayaan yang indah tentang waktu yang dipinjamkan, dan bagaimana bertemu seseorang yang tepat dapat mengubah seluruh pandangan hidup kita.
Penemuan Rahasia yang Mengubah Segalanya
Kisah ini berpusat pada tokoh utama laki-laki yang namanya tidak pernah disebutkan secara langsung di awal cerita, yang sering disebut sebagai “Aku” (Boku) atau Haruki Shiga. Haruki adalah seorang siswa sekolah menengah yang sangat tertutup, pendiam, dan menyukai kesendirian. Ia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya tenggelam dalam buku di perpustakaan sekolah, merasa bahwa interaksi sosial dan menjalin pertemanan adalah hal yang tidak perlu.
Kehidupan Haruki yang teratur dan terisolasi tiba-tiba terganggu ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah buku harian di ruang tunggu rumah sakit. Judulnya yang menarik adalah “Hidup Bersama Penyakit” (Living with Dying). Haruki segera mengetahui bahwa pemilik buku harian tersebut adalah Sakura Yamauchi, teman sekelasnya yang populer, ceria, dan penuh energi.
Dari buku harian itu, Haruki mengetahui rahasia besar Sakura: ia menderita penyakit pankreas yang parah dan tidak dapat disembuhkan, dan sisa hidupnya hanya tinggal hitungan bulan. Menariknya, Haruki menunjukkan reaksi yang sangat tenang dan tanpa emosi yang berlebihan terhadap kabar mengerikan ini. Sikapnya yang apatis dan tidak menghakimi itulah yang menarik perhatian Sakura.
Ikatan yang Aneh dan Unik
Sejak Haruki mengetahui rahasia Sakura, sebuah ikatan yang sangat aneh terbentuk di antara mereka. Sakura, yang berusaha keras menjalani kehidupan normal dan ceria, memilih Haruki—satu-satunya orang di luar keluarganya yang tahu tentang kondisinya—untuk menemaninya di sisa waktu hidupnya.
Sakura yang periang dan spontan mulai “menyeret” Haruki yang pendiam ke dalam berbagai pengalaman baru, seperti kencan palsu di kafe, perjalanan liburan mendadak ke kota-kota lain, dan berbagai aktivitas yang tertulis dalam bucket list rahasianya. Tujuan Sakura bukan hanya untuk memenuhi daftar keinginannya, tetapi juga untuk mencoba “mengubah” Haruki, memaksanya keluar dari zona nyamannya dan berinteraksi dengan dunia luar.
Haruki, pada awalnya enggan, lambat laun mulai terpengaruh oleh semangat hidup Sakura yang membara. Ia dipaksa untuk menghadapi filosofi hidup dan kematian, dan melalui interaksi mereka, ia mulai menemukan makna dalam hubungan antarmanusia—suatu hal yang selalu ia hindari.
Realitas Kehidupan dan Kematian
Meskipun dinamika mereka sering kali dipenuhi dengan humor dan keceriaan, film ini tidak pernah melepaskan bayangan realitas penyakit Sakura. Kesehatan Sakura perlahan menurun, dan tantangan yang mereka hadapi semakin besar. Mereka berdua harus menghadapi pertanyaan mendasar tentang takdir, kebetulan, dan pentingnya setiap pilihan yang diambil dalam hidup.

“I Want to Eat Your Pancreas” secara indah menggambarkan bagaimana hubungan yang paling tidak terduga pun dapat meninggalkan dampak yang abadi pada jiwa seseorang. Melalui interaksi mereka, Haruki belajar untuk merasakan, sementara Sakura berusaha untuk hidup sepenuhnya hingga detik terakhir.
Film ini adalah eksplorasi yang mengharukan tentang menemukan keindahan dalam waktu yang terbatas dan kekuatan luar biasa dari ikatan yang murni. Ini bukan hanya tentang kisah cinta yang tragis, tetapi tentang bagaimana seseorang dapat menginspirasi orang lain untuk mulai menjalani hidup seutuhnya, bahkan ketika menghadapi akhir yang tak terhindarkan.
